Seni tradisi Nini Thowong pada dasarnya adalah permainan anak-anak. Pada masa lalu, sekitar tahun 1930-an, di wilayah Pedukuhan Grudo, Keluruhan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Daerah Istimewa Yogyakarta, atas inisiatif tokoh masyarakat saat itu (Mbah Udi Seda dan…

Nini Thowong (2014)
Nini Thowong

Produser:
Sutradara:
Penulis:
Pemeran:
Tanggal edar:
Warna: Dukumenter

Seni tradisi Nini Thowong pada dasarnya adalah permainan anak-anak. Pada masa lalu, sekitar tahun 1930-an, di wilayah Pedukuhan Grudo, Keluruhan Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Daerah Istimewa Yogyakarta, atas inisiatif tokoh masyarakat saat itu (Mbah Udi Seda dan Mbah Marto Jumar), anak-anak di Pedukuhan Grudo tersebut diajak memainkan boneka Nini Thowong. Permainan boneka Nini Thowong menjadi terkesan mistis karena melibatkan roh halus yang dimasukkan ke dalam boneka tersebut. Roh halus yang dimasukkan ke dalam boneka Nini Thowong tersebut kadang-kadang dimanfaatkan oleh sebagian warga sebagai media bertanya tentang masa depan, mencari barang hilang, bahkan ada yang memanfaatkan untuk bertanya tentang obat bagi penyakit yang sedang diderita. Akan tetapi, seiring dengan dinamika jaman, permainan boneka ini semakin terpinggirkan oleh aneka hiburan modern. Peran pawang (roh halus) dalam pertunjukkan Nini Thowong yang demikian penting, menjadi kontroversial, mengingat sebagian besar masyarakat Grudo beragama Islam dan beranggapan bahwa permainan tradisional Nini Thowong tersebut bisa mengarah kepada tindakan-tindakan 'syirik' (menyekutukan Tuhan), yang tentu saja sangat bertentangan dengan tuntunan aqidah syariat Islam. Rentannya kontroversi profesi pawang Nini Thowong ini menjadi salah satu sebab transfer ilmu pawang Nini Thowong ataupun regenerasinya tidak mudah. Sampai sekarang, pawang Nini Thowong di Pedukuhan Grudo baru ada empat orang, yaitu: Mbah Udi Seda (Alm.), Mbah Marto Jumar (Alm.), Mbah Asto dan yang terakhir yaitu Mbah Paeran.

Sementara itu, di sebelah timur Pedukuhan Grudo, di Pedukuhan Candran, Kebonagung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, seni tradisi Nini thowong muncul sebagai bagian dari atraksi wisata yang mampu menjadi daya tarik wisata Pedukuhan Candran tersebut, sehingga secara tidak langsung, seni tradisi Nini Thowong mampu menjadi pilar ekonomi bagi Pedukuhan Candran. Seni tradisi Nini Thowong di Candran berusaha untuk bisa menyesuaikan dengan dinamika jaman, walau tanpa menghilangkan unsur-unsur mistis dari seni pertunjukkan tersebut.

Ritus daur hidup itu sendiri dimulai ketika usia kandungan satu bulan. Upacara Ngebor-ebori merupakan upacara selamatan yang dilakukan saat seorang wanita mulai hamil atau mengandung. Biasanya selamatan ini dilakukan sendiri oleh si wanita yang hamil maupun dibuatkan oleh orangtuanya. 

Film dokumenter ini menjabarkan dinamika sosial kelompok seni tradisional Nini Thowong, baik yang ada di Pedukuhan Grudo maupun di Pedukuhan Candran.

copyright © 2013
Dinas Kebudayaan DIY

Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945
email : budaya@tasteofjogja.org