Halaman yang berisi informasi & berita seputar perfilman Yogyakarta.

CATATAN LIMA FILM FIKSI PRODUKSI DINAS KEBUDAYAAN DIY 2017
Senin, 04 September 2017

CATATAN LIMA FILM FIKSI PRODUKSI DINAS KEBUDAYAAN DIY 2017

Oleh Indra Tranggono

          Dengan perasaan bahagia, saya menyaksikan pemutaran perdana lima film fiksi dan dua film dokumenter yang diproduksi Dinas Kebudayaan DIY, program seksi film tahun 2017. Perhelatan yang digelar 31 Agustus 2017 mulai pukul 18.30 memutar film fiksi Incang Inceng, Pentas Terakhir, Hoyen, Padhajanya dan Munggah Kaji. Adapun dua film dokumenter yang diputar adalah The Unseen Word dan Dluwang. Gelaran karya para film maker DIY  itu dihadiri penonton yang melimpah, hingga auditorium Disbud DIY tak mampu menampung. Tulisan ini mencoba memberikan catatan atas lima fim fiksi.

          Pengahargaan yang tinggi tentu layak diberikan kepada Dinas Kebudayaan DIY yang telah memberikan dukungan dan kontribusi besar baik secara material dan imaterial kepada jagat perfileman di DIY, melalui pendanaan produksi film yang kali ini diberikan kepada para film maker yang terlibat dalam tujuh film tersebut di atas. Kontribusi tersebut memiliki beberapa makna.

          Pertama, konteks kehadiran negara (baca: pemerintah DIY) untuk turut cawe-cawe (terlibat secara aktif dan produktif) bagi pengembangan dunia perfilman di DIY. Hal ini ditandai oleh pelaksanaan regulasi dan fasilitasi yang mendorong lahirnya karya-karya berkualitas para film maker di DIY.

Kedua, lahirnya karya-karya yang memiliki muatan nilai dan karakter kultural keyogyakartaan. 

Muatan nilai yang dimaksud adalah semesta ide, pengetahuan dan pengalaman yang berbasis pada dinamikan sosial dan kultural kehidupan masyarakat di DIY yang dapat diwujudkan secara estetik dan bisa diserap publik sebagai referensi dan inspirasi. Adapun karakter kultural keyogyakartaan yang dimaksud adalah watak budaya yang tercermin pada otentisitas dan nilai-nilai khas yang melekat pada lokalitas keyogyakartaan. Hal ini tidak hanya hadir dalam wujud DIY sebagai seting sosial (fisik) melainkan juga nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang yang menjadi acuan publik DIY. Yakni penghadiran gagasan dan cara manusia-manusia DIY yang khas, genuin dalam merespons dan menjawab sejumlah persoalan dan tantangan yang muncul dalam perubahan.

Ketiga, terbangunnya iklim kreatif perfiman, yang mendorong penguatan DIY menjadi subyek (dalam) industri kreatif. Yakni, industri yang memproduksi ide dan nilai kreatif, di mana film menjadi bagian terpenting darinya.

Keempat, tumbuh dan berkembangnya sineas-sineas muda yang potensial yang mampu bicara di tingkat nasional bahkan internasional melaui film sebagai wahana ucap kebudayaan. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut otomatis memperkokoh sosok Sinema Yogya yang turut mengembangkan Sinema Indonesia, bahkan Sinema Dunia.

Semiotika film

Film merupakan entitas estetik yang mengandung ide sosial dan ide kultural hasil penafsiran kreator atas kehidupan masyarakat. Film bicara secara semiotik melalui simbol-simbol verbal dan visual, sehingga pesan sosial atau moral dapat dikenali, dipahami serta dihayati publik penonton. Melalui pemahaman ini, saya mencoba memaknai film-film yang diputar pada 31 Agustus 2017.

Film Incang-Inceng secara fasih dan artikulatif berbicara tentang nilai-nilai kemajemukan kultural melalui kisah dunia anak yang terlibat dalam pertandingan sepak bola di kampung. Struktur cerita film ini cukup kuat, didukung pembentukan alur/plot yang runtut, rapi dan ketat dalam menjalin adegan yang saling terkait (sebab-akibat). Pola ucap film ini juga cukup jitu. Efektif dan tidak boros kata-kata dan visualitas. Penulis skenario dan sutradara mampu “mendagingkan” (mewujudkan) gagasan menjadi kisah yang mudah dipahami penonton. Keberhasilan ini juga didukung kecekatan kerja editor yang mampu menghadirkan rentetan gambar yang dinamis. Renyah. Gurih.

Tanpa bertendensi menjadi film komedi, Incang-inceng berhasil menghadirkan berbagai kelucuan dan kejenakaan khas dunia anak. Liar secara kreatif. Dan, menyentuh. Kaya imajinasi. Alhasil film ini mampu menggugah kesadaran publik penonton tentang pentingnya solidaritas dalam seting plurarisme soaial dan agama, yang menjadi isu paling sensitif dan sering dikapitalisasi secara politik di Indonesia. Film Incang Inceng bisa dengan sangat fasih, rileks, dan tanpa beban membicarakan persoalan yang serius, berat dan genting itu.

Keberhasilan Incang-inceng juga ditandai satu hal penting: tidak tergoda mengeksploitasi hal-hal yang artifisial, terutama terkait dengan isu besar seperti plurarisme. Tidak ada pidato, statetmen, atau petuah-petuah tapi seluruh kehadiran peristiwa dramatik film ini mengajak kita merenung dan berefleksi. Hal lain adalah: cara dan sudut pandang yang unik, yakni mewakili dunia anak sebagai mahluk bermain (homo ludens). Turunan penting dari hal itu adalah karakter-karakter/tokoh-tokoh dalam cerita dibangun secara sangat kuat.

Benar yang dikatakan budayawan Umar Kayam: karya seni bukan serentetan pernyataan atau khotbah moral melainkan kisah yang digali dari pelbagai peristiwa dramatik dan karakter para tokohnya.

Pentas Terakhir. Film dengan konten kisah yang berlatar belakang sejarah “geger 1965” ini berupaya mengisahkan tragedi politik para pelaku ketoprak yang dianggap “terlibat” dalam aktivitas Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) underbow PKI. Cerita film ini terinspirasi dari kisah nyata: seorang pelaku ketoprak di Yogyakarta yang turut dalam penahanan para seniman ketoprak yang “diindikasikan” anggota Lekra.

Adegan-adegan mengalir lancar dalam warna gambar yang sengaja didekatkan dengan peristiwa masa lalu bernuansa lawas. Ini menjadi upaya yang layak dipuji. Dengan cara itu, beberapa adegan dari rombongan sosok-sosok berkostum militer yang menciduk orang-orang yang dianggap “terlibat peristiwa 65”, sampai adegan interogasi, sel penjara dan latihan serta pentas ketoprak di ruang tahanan, hadir dengan nuansa lawasan yang memikat. Begitu pula pola pengadegan dan permainan yang berbasis pada kewajaran.

Namun, suasana dramatik  yang sejak awal berpotensi menjadi kekuatan skenario film ini, di luar dugaan, kurang hadir secara maksimal dalam film ini. Film ini, terasa kehilangan daya sentuh dan daya “tonjok” yang semula saya bayangkan mampu “menghajar” jiwa penonton.

Saya bertanya, kenapa film yang fasih bercerita ini kurang  hadir energi dengan energi puitik yang besar? Bisa jadi, karena penciptaan peristiwa dalam adegan-adegan yang kurang berhasil dalam “membetot” imajinasi penonton. Dengan kata lain, daya “subversif” estetik film ini kurang begitu kuat. Lihat saja misalnya adegan interogasi tokoh utama yang kurang dieksplorasi secara semiotik. Juga adegan yang melukiskan kegelisahan dan kecemasan para pesakitan menunggu “saat yang menentukan”. Kegentingan yang begitu diharapkan itu, kurang terasa hadir mengaduk-aduk emosi penonton.

Atau sang sutradara sengaja menghindari hal-hal dramatik? Jika itu menjadi pilihan, resikonya adalah film ini lebih hadir sebagai pengetahuan kolektif belaka yang sebenarnya pengetahuan yang sama  bisa juga didapat dari banyak buku tentang korban geger 1965. Film menjadi menarik, salah satunya karena unsur dramatik yang kuat berjalinan dengan karakter tokoh yang kuat pula, di mana tenunan makna dapat dikenali dan dihayati penonton.

Hoyen. Film ini merupakan ode bagi Romo YB Manguwijaya, rohaniwan, budayawan dan sastrawan yang melakukan kontestualisasi nilai-nilai humanisme dalam realitas kehidupan, khususnya kalangan marjinal: bantaran sungai Code, Yogyakarta pada tahun 1980-an. Yang menarik, film ini tidak semata-mata bicara tentang Romo Mangun, melainkan realitas getir kehidupan kalangan “hoyen” (makanan sisa dari restoran). Secara semiotik, “hoyen” tampil kuat, denotatif maupun konotatif. Nuansa sumpek, penuh kekerasan, jorok berhasil dihadirkan melalui interaksi para tokoh sehingga problem dehumanisasi muncul dan ditangkap penonton. Dalam tumpukan “sampah” dan genangan “limbah” ada “mutiara” misalnya perempuan bernama Yen yang punya martabat, penjambret yang solider dan lainnya. Adapun di sisi lain,dimunculkan karakter-karakter hipokrit: mereka yang hanya indah dalam ucapan namun busuk dalam tindakan.

Hoyen tidak memotret realitas Code era 80-an—sebuah pendekatan yang gampang layu-- tapi mendedah persoalan sosio-kultural melalui problem psikologis para tokohnya yang berbenturan dengan realitas getir. Verbalitas diimbangi dengan paparan visualitas yang menarik. Sehingga ia terhindar menjadi film yang “nyinyir”. Upaya sutradara untuk mengadirkan adegan-adegan peristiwa tokoh-tokohnya, terutama Yen, menjadikan film ini tidak melelahkan. Problemnya, mungkin lebih pada suasana dramatik yang belum terbangun secara optimal. Peran musik dan tata cahaya belum memberikan pasokan kontribusi estetik yang kaya. Namun, dari hasil yang dicapai, film ini mampu menghadirkan sepotong dunia kusam Code yang telah puluhan tahun terbenam dalam kubangan sejarah perubahan sosial di Kota Yogyakarta.

Dua film lainnya: Padhajayanya dan Munggah Kaji tampil mengalir dalam memaparkan kisah-kisahnya. Padajayanya berkisah tentang semesta pengetahuan, wisdom Jawa terkait dengan peradaban bahasa Hanacaraka yang berisi tentang filsafat nilai. Persoalan yang sangat abstrak dicoba didedah oleh penulis skenario dan sutradara melalui kisah yang mengeksplorasi seni kanuragan. Warna yang dipilih adalah hitam-putih demi memberikan tekanan pada nuansa kisah masa lalu.

Secara teknis, adegan-adegan kanuragan, umumnya dihadirkan dengan cukup baik. Namun seluruh gambaran itu, masih belum mampu menghadirkan inti kisah berikut filsafat yang dikandungnya. Dua hal, yakni verbalitas (pesan sosial) dan visualitas belum luluh menjadi satu jagat estetik yang utuh dan pepal. Kelemahan tampak pada skenario yang kurang memberi ruang pada keluasan dan keliaran eksplorasi secara filmis. Namun, film ini tetap enak ditonton.

Munggah Kaji  tampil dalam ritme yang lumayan lamban. Sutradara tampak mengurung dan menahan penonton pada adegan-adegan dan gambar-gambar, demi mendapatkan intensi tertentu. Di satu sisi, upaya itu relatif berhasil. Namun di sisi lain, menjadikan film ini terasa “berat” dan lambat. Konten seputar “benturan cara pandang” antara Nenek dan Kakek seputar ritus baik haji, juga terasa belum hadir menyengat. Atau sutradara sengaja menghadirkan peristiwa-peristiwa secara datar dan biasa-biasa saja? Sebagai pilihan, hal itu sah-sah saja. Namun, apa pun jenisnya, film tetap merupakan wahana komunikasi estetik-sosial yang menggunakan simbol-simbol dan semiotika serta logika, sehingga bisa dikenali oleh penontonnya.

Dengan kelebihan dan kekuranggannya, lima film telah bicara tentang nilai-nilai yang melekat pada keyogyakartaan sebagai makro kosmos budaya. Lima film tersebut, dapat didudukkan sebagai penanda penting dinamika kultural keyogyakartaan, melalui dunia kisah dengan sudut pandang manusia dalam memaknai persoalan yang mengepungnya. Publik dapat melakukan pembacaan atas lima film tersebut baik secara tekstual maupun nilai-nilainya. Ceruk kultural keyogkartaan pun relatif bisa dipahami dan dihayati baik sebagai pengetahuan atau inspirasi.

Indra Tranggono, anggota Tim Kurator Film Dinas Kebudayaan DIY, program produksi tahun 2017

 

 

Komentar Member

Tinggalkan Komentar


Login atau Daftar

copyright © 2013
Dinas Kebudayaan DIY

Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945
email : budaya@tasteofjogja.org