Halaman yang berisi informasi & berita seputar perfilman Yogyakarta.

Film Pendek Jogja Boyong Dua Piala Citra FFI 2017
Senin, 04 Desember 2017

Film pendek ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ dari Jogja berhasil memboyong dua Piala Citra untuk kategori Film Pendek Terbaik dan Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017, yang diselenggarakan secara meriah di Grand Kawanua International City, Manado, Sulawesi Utara (11/11). Film pendek ‘Ruah’ disutradari oleh Makbul Mubarak dan ‘The Unseen Words’ oleh Wahyu Utami.

“Piala Citra ini merupakan apresiasi yang luar biasa bagi film ‘Ruah’. Film ini terilhami dari pengalaman saya tumbuh di Jogja,” ujar Makbul.

Uut, nama panggilan Wahyu Utami, merasa senang sekali dengan penghargaan ini. “Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Karena dulu waktu bikin, ya bikin aja. Sama kayak waktu dulu riset, ya riset aja. Saya lebih fokus ke apa yang harus saya sampaikan melalui film dan bagaimana mencapainya. Jadi bonus banget kemudian bisa dapet pendanaan dari Dinas (Kebudayaan DIY), terus lanjut dapat penghargaan di FFI.”

Kemenangan ini menjadi semakin spesial karena ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ merupakan film yang diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY, melalui Kegiatan Pendanaan Produksi Film Pendek tahun 2016 dan 2017. ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ menjadi dua film pertama produksi Dinas Kebudayaan DIY yang berhasil menyabet penghargaan tertinggi untuk insan perfilman Indonesia ini. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono, M.Pd., mengapresiasi pencapaian kedua film tersebut.

“Selamat kepada film ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’. Saya sangat mengapresiasi pencapaian ini. Terimakasih atas keseriusannya dalam menggarap film tersebut. Pendanaan film ini menggunakan dana publik dari Dana Keistimewaan. Saya mengapresiasi kinerja tim produksi film yang memanfaatkan skema dukungan dari Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan ini dengan sebaik-baiknya, untuk membuat film-film yang mampu menunjukkan dinamika kebudayaan Jogja dengan lebih baik, sekaligus mampu mengedukasi masyarakat luas.”

Kegiatan Pendanaan Produksi Film Pendek merupakan program tahunan Dinas Kebudayaan DIY yang bertujuan untuk mendorong lahirnya karya-karya film berkualitas dari para pembuat film Yogyakarta, yang mampu merepresentasikan nilai dan karakter kultural keyogyakartaan. Program ini dimulai sejak tahun 2015 dan hingga saat ini telah berhasil memproduksi 27 film pendek fiksi dan dokumenter. Tahun lalu, 3 film pendek fiksi dan dokumenter menjadi nominasi Festival Film Indonesia 2016 di kategori Film Pendek dan Film Dokumenter Terbaik.

Indra Tranggono, Pemerhati Budaya sekaligus Anggota Tim Kurator Film Dinas Kebudayaan DIY 2017, dalam catatannya menyatakan bahwa kehadiran negara (Pemerintah DIY) bagi pengembangan dunia perfilman DIY ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya sineas-sineas muda Yogyakarta yang potensial, yang mampu bicara di tingkat nasional bahkan internasional melalui film sebagai wahana ucap kebudayaan. Meski demikian, ia juga menambahkan bahwa Jogja yang dihadirkan dalam film-film ini nantinya tidak hanya berwujud setting sosial (fisik), “Melainkan juga nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang yang menjadi acuan publik DIY. Yakni penghadiran gagasan dan cara manusia-manusia DIY yang khas, genuin dalam merespons dan menjawab sejumlah persoalan dan tantangan yang muncul dalam perubahan.”

Drs. Umar Priyono, M.Pd. berharap pencapaian dua film pendek Jogja di FFi 2017 ini akan mendorong para pembuat film Jogja untuk terus membuat karya-karya yang berkualitas. “Memang sudah menjadi tugas kami, pemerintah, untuk terus ada dan memfasilitasi hal ini. Kami selalu membuka masukan dari rekan-rekan pembuat film agar ke depannya program Pendanaan Produksi Film Pendek Dinas Kebudayaan DIY menjadi semakin baik,” tambah Umar Priyono.

"Jogja adalah tempat yang spesial buat saya. Di kota ini saya pertama kali belajar film lewat sebuah komunitas pemutaran film bernama KINOKI. Sangat membahagiakan untuk kembali ke Jogja, apalagi bisa membuat film di sana lalu kemudian mendapatkan apresiasi,” tambah Makbul.

‘Ruah’ merupakan film produksi Limaenam Films, sementara ‘The Unseen Words’ diproduksi oleh Maju Jalan Films. ‘Ruah’ juga akan berkompetisi di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2017, yang akan diselenggarakan pada tanggal 23 November-3 Desember 2017. SGIFF adalah festival film terbesar di Asia Tenggara. Festival film ini sangat strategis untuk memperkenalkan karya, gagasan maupun program tertentu kepada khalayak internasional.

  ***

 

Lampiran:

DAFTAR APRESIASI & PRESTASI TINGKAT NASIONAL & INTERNASIONAL FILM-FILM PRODUKSI DINAS KEBUDAYAAN DIY 2017-2015:

2017

Dluwang (Agni Tirta/Dokumenter/2017)

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

Pentas Terakhir (Triyanto Hapsoro/Fiksi/2017)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

The Unseen Words (Wahyu Utami Wati/Dokumenter/2017)

-Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

 

2016

Happy Family (Eden Junjung/Fiksi/2016)

-Nominasi Best Short Film - Valleta Film Festival 2017 (Malta)

Kleang Kabur Kanginan (Riyanto Tan Ageraha/Fiksi/2016)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

-Official Selection - Kurzfilmtage Winterthur 2017 (Swiss)

Ruah (Makbul Mubarak/Fiksi/2016)

-Nominasi Silver Screen Awards - Singapore International Film Festival 2017 (Singapura)

-Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

-Nominasi Kompetisi Light of Asia - Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016

 

2015

Amarta (Bambang "Ipoenk" KM/Fiksi/2015)

-Film Pendek Anak Terbaik - Apresiasi Film Indonesia 2016

-Juri Special Mention - Festival Film Kawal Harta Negara 2017 (BPK RI)

-Nominasi Kompetisi - CMS International Children Film Festival (India)

-Official Selection - West Nordic International Film Festival 2017 (Norwegia)

-Official Selection - Charlote Asian Film Festival 2017 (Amerika Serikat)

-Official Selection - FIKTIVA Media Art Festival 2017 (Jerman)

-Official Selection - Chaktomuk Short Film Festival 2017 (Kamboja)

-Official Selection - ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2017

-Official Selection - Los Angeles Indonesia Film Festival 2016 (Amerika Serikat)

Bawang Kembar (Gangsar Waskito/Animasi/2016)

-Nominasi Film Animasi Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Di Kaliurang (Fransiscus Magastowo/Dokumenter/2015)

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

Ilalang, Ingin Hilang Waktu Siang (Loeloe Hendra/Fiksi/2015)

-Nominasi Silver Screen Awards - Singapore International Film Festival 2016 (Singapura)

-Official Selection - Los Angeles Indonesian Film Festival 2016 (Amerika Serikat)

-Official Selection - International Film Festival Innsburck 2017 (Austria)

Kitorang Basudara (Ninndi Raras/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

-Nominasi Film Pendek Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Natalan (Sidharta/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2015

-Nominasi Kompetisi Light of Asia - Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015

Pulang Tanpa Alamat (Riyanto Tan Ageraha/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Wasis (Ima Puspita Sari/Dokumenter/2015)

-Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Dokumenter 2015

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

 

 Film pendek ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ dari Jogja berhasil memboyong dua Piala Citra untuk kategori Film Pendek Terbaik dan Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017, yang diselenggarakan secara meriah di Grand Kawanua International City, Manado, Sulawesi Utara (11/11). Film pendek ‘Ruah’ disutradari oleh Makbul Mubarak dan ‘The Unseen Words’ oleh Wahyu Utami.

“Piala Citra ini merupakan apresiasi yang luar biasa bagi film ‘Ruah’. Film ini terilhami dari pengalaman saya tumbuh di Jogja,” ujar Makbul.

Uut, nama panggilan Wahyu Utami, merasa senang sekali dengan penghargaan ini. “Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Karena dulu waktu bikin, ya bikin aja. Sama kayak waktu dulu riset, ya riset aja. Saya lebih fokus ke apa yang harus saya sampaikan melalui film dan bagaimana mencapainya. Jadi bonus banget kemudian bisa dapet pendanaan dari Dinas (Kebudayaan DIY), terus lanjut dapat penghargaan di FFI.”

Kemenangan ini menjadi semakin spesial karena ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ merupakan film yang diproduksi oleh Dinas Kebudayaan DIY, melalui Kegiatan Pendanaan Produksi Film Pendek tahun 2016 dan 2017. ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’ menjadi dua film pertama produksi Dinas Kebudayaan DIY yang berhasil menyabet penghargaan tertinggi untuk insan perfilman Indonesia ini. Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Umar Priyono, M.Pd., mengapresiasi pencapaian kedua film tersebut.

“Selamat kepada film ‘Ruah’ dan ‘The Unseen Words’. Saya sangat mengapresiasi pencapaian ini. Terimakasih atas keseriusannya dalam menggarap film tersebut. Pendanaan film ini menggunakan dana publik dari Dana Keistimewaan. Saya mengapresiasi kinerja tim produksi film yang memanfaatkan skema dukungan dari Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan ini dengan sebaik-baiknya, untuk membuat film-film yang mampu menunjukkan dinamika kebudayaan Jogja dengan lebih baik, sekaligus mampu mengedukasi masyarakat luas.”

Kegiatan Pendanaan Produksi Film Pendek merupakan program tahunan Dinas Kebudayaan DIY yang bertujuan untuk mendorong lahirnya karya-karya film berkualitas dari para pembuat film Yogyakarta, yang mampu merepresentasikan nilai dan karakter kultural keyogyakartaan. Program ini dimulai sejak tahun 2015 dan hingga saat ini telah berhasil memproduksi 27 film pendek fiksi dan dokumenter. Tahun lalu, 3 film pendek fiksi dan dokumenter menjadi nominasi Festival Film Indonesia 2016 di kategori Film Pendek dan Film Dokumenter Terbaik.

Indra Tranggono, Pemerhati Budaya sekaligus Anggota Tim Kurator Film Dinas Kebudayaan DIY 2017, dalam catatannya menyatakan bahwa kehadiran negara (Pemerintah DIY) bagi pengembangan dunia perfilman DIY ini akan mendorong tumbuh dan berkembangnya sineas-sineas muda Yogyakarta yang potensial, yang mampu bicara di tingkat nasional bahkan internasional melalui film sebagai wahana ucap kebudayaan. Meski demikian, ia juga menambahkan bahwa Jogja yang dihadirkan dalam film-film ini nantinya tidak hanya berwujud setting sosial (fisik), “Melainkan juga nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang yang menjadi acuan publik DIY. Yakni penghadiran gagasan dan cara manusia-manusia DIY yang khas, genuin dalam merespons dan menjawab sejumlah persoalan dan tantangan yang muncul dalam perubahan.”

Drs. Umar Priyono, M.Pd. berharap pencapaian dua film pendek Jogja di FFi 2017 ini akan mendorong para pembuat film Jogja untuk terus membuat karya-karya yang berkualitas. “Memang sudah menjadi tugas kami, pemerintah, untuk terus ada dan memfasilitasi hal ini. Kami selalu membuka masukan dari rekan-rekan pembuat film agar ke depannya program Pendanaan Produksi Film Pendek Dinas Kebudayaan DIY menjadi semakin baik,” tambah Umar Priyono.

"Jogja adalah tempat yang spesial buat saya. Di kota ini saya pertama kali belajar film lewat sebuah komunitas pemutaran film bernama KINOKI. Sangat membahagiakan untuk kembali ke Jogja, apalagi bisa membuat film di sana lalu kemudian mendapatkan apresiasi,” tambah Makbul.

‘Ruah’ merupakan film produksi Limaenam Films, sementara ‘The Unseen Words’ diproduksi oleh Maju Jalan Films. ‘Ruah’ juga akan berkompetisi di Singapore International Film Festival (SGIFF) 2017, yang akan diselenggarakan pada tanggal 23 November-3 Desember 2017. SGIFF adalah festival film terbesar di Asia Tenggara. Festival film ini sangat strategis untuk memperkenalkan karya, gagasan maupun program tertentu kepada khalayak internasional.

  ***

 

Lampiran:

DAFTAR APRESIASI & PRESTASI TINGKAT NASIONAL & INTERNASIONAL FILM-FILM PRODUKSI DINAS KEBUDAYAAN DIY 2017-2015:

2017

Dluwang (Agni Tirta/Dokumenter/2017)

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

Pentas Terakhir (Triyanto Hapsoro/Fiksi/2017)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

The Unseen Words (Wahyu Utami Wati/Dokumenter/2017)

-Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

 

2016

Happy Family (Eden Junjung/Fiksi/2016)

-Nominasi Best Short Film - Valleta Film Festival 2017 (Malta)

Kleang Kabur Kanginan (Riyanto Tan Ageraha/Fiksi/2016)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

-Official Selection - Kurzfilmtage Winterthur 2017 (Swiss)

Ruah (Makbul Mubarak/Fiksi/2016)

-Nominasi Silver Screen Awards - Singapore International Film Festival 2017 (Singapura)

-Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2017

-Nominasi Kompetisi Light of Asia - Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016

 

2015

Amarta (Bambang "Ipoenk" KM/Fiksi/2015)

-Film Pendek Anak Terbaik - Apresiasi Film Indonesia 2016

-Juri Special Mention - Festival Film Kawal Harta Negara 2017 (BPK RI)

-Nominasi Kompetisi - CMS International Children Film Festival (India)

-Official Selection - West Nordic International Film Festival 2017 (Norwegia)

-Official Selection - Charlote Asian Film Festival 2017 (Amerika Serikat)

-Official Selection - FIKTIVA Media Art Festival 2017 (Jerman)

-Official Selection - Chaktomuk Short Film Festival 2017 (Kamboja)

-Official Selection - ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2017

-Official Selection - Los Angeles Indonesia Film Festival 2016 (Amerika Serikat)

Bawang Kembar (Gangsar Waskito/Animasi/2016)

-Nominasi Film Animasi Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Di Kaliurang (Fransiscus Magastowo/Dokumenter/2015)

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

Ilalang, Ingin Hilang Waktu Siang (Loeloe Hendra/Fiksi/2015)

-Nominasi Silver Screen Awards - Singapore International Film Festival 2016 (Singapura)

-Official Selection - Los Angeles Indonesian Film Festival 2016 (Amerika Serikat)

-Official Selection - International Film Festival Innsburck 2017 (Austria)

Kitorang Basudara (Ninndi Raras/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

-Nominasi Film Pendek Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Natalan (Sidharta/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik - Festival Film Indonesia 2015

-Nominasi Kompetisi Light of Asia - Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015

Pulang Tanpa Alamat (Riyanto Tan Ageraha/Fiksi/2015)

-Nominasi Film Pendek Terbaik Kategori Umum - Apresiasi Film Indonesia 2016

Wasis (Ima Puspita Sari/Dokumenter/2015)

-Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Dokumenter 2015

-Nominasi Film Pendek Dokumenter Terbaik - Festival Film Indonesia 2016

 

 

 

Komentar Member

Tinggalkan Komentar


Login atau Daftar

copyright © 2013
Dinas Kebudayaan DIY

Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945
email : budaya@tasteofjogja.org